Post kali ini tentang sebuah pilihan yang telah saya buat sejak lama, namun sampai sekarang saya tahu -- saya tidak akan pernah menyesalinya.
Kira-kira 2 tahun lalu, atau mungkin lebih lama lagi, berawal dari keputusan saya (yang saat itu masih setengah hati) ikut seleksi paskibraka di sekolah. Tapi yang itu anggap saja hanya sebagai pembukaan, karena kali ini ceritanya bukan tentang saya, tetapi tentang mereka yang akan kuperkenalkan nanti. Skip, intinya saya dan 5 orang teman saya (Fachri, Anin, Azhar, Abi, dan Yudhis) berhasil melaksanakan tugas sebagai Paskibraka Indonesia Th. 2010
Berlanjut hingga kami mencari bibit-bibit baru penerus generasi Paskibraka Teladan. Pada saat itu, kalau boleh jujur, kami tahu angkatan paskib kami bukanlah yang terbaik. Kami ber-6 sebagai angkatan yang
fresh-from-the-oven berwajib untuk mencari dan mengglembeng bibit-bibit baru ini. Kami putar otak sampai jungkir balik, memikirkan cara yang tepat. Karena kami sepakat kali ini hasilnya harus berakhir maksimal.
'Mereka HARUS lebih baik dari kami' kira-kira kata kata inilah yang selalu kami pegang.
ki-ka: Hario, Yazil, Rizka, Ovi, Dafi, Ical
ki-ka: Yazil, Dafi, Ovi, Hario, Ical
Bisa dibilang kami sangat berhati-hati hingga dari sekian banyak kami pilih hanya 6 orang, kemudian menjadi 5
(Dafi dan Rizka, kalian selalu kami anggap sebagai bagian dari keluarga besar ini :D) dan akhirnya tersisa 4 orang. Yazil, Hario, Ical, dan Ovi. 3 putra dan 1 putri. Komposisi yang ganjil bukan? Sebelum sampai di komposisi ini, kami menjalani prosesi yang panjang dan rumit untuk melatih mereka. Dalam hal ini, kami ber-6 sebagai pelatih mempunyai beban berat.
Banyak waktu yang telah kami korbankan untuk ini, tenaga juga terkuras habis. Stress kadang juga menyapa kalo kami bener-bener nggak tahu harus gimana lagi. Belum lagi banyaknya pelajaran yang terbengkalai karena fokus kami yang terbelah-belah. Terlebih orangtua saya juga sempat keberatan karena kesibukan saya yang sepenuhnya untuk melatih mereka. Tapi saya tetap keukeuh, saya cuma ingin menjalankan adat
take-and-give, saya ingin berbagi ilmu sebagaimana yang telah diberikan 5 kakak pelatih saya dulu (Mas Adhi, Mas Arda, Mbak Fad, Mas Maman, dan Mbak Nevi). Saya ingin balas budi.
Setelah melewati proses seleksi yang cukup panjang, memang ada saatnya kami ber-6 khawatir bukan main. Khawatir kami tidak bisa memenuhi ekspektasi publik, khawatir tidak bisa menjadi 'guru' yang baik. Ada saatnya ketika kami pesimis dan galau tingkat tujuh kalau memikirkan bagaimana 'hasil' dari pelatihan yang telah kami berikan. Paling tidak, di saat saat seperti itu ada banyak orang yang mendukung kami, dan kami tahu kami bisa percaya pada adik-adik ini.
Dan akhirnya terjawab kemudian. Sebelumnya kami tahu Ovi, Yazil, dan Ical ditugaskan di kota. Menyisakan Hario yang ikut seleksi nasional di Provinsi. Kami pura-pura tenang dan bersifat kalem menunggu hasilnya (padahal saya udah geregetan sendiri). Saat itu saya merasa apapun hasilnya saya ikhlas, toh saya sudah bangga pada keempat adik saya itu.
Kronologisnya, ketika itu saya sedang mengerjakan soal sosiologi yang bejibun (100 soal dalam waktu 1 jam -_-) di siang yang terik. Nada dering spongebob (iya, saya tau ini alay) yang berasal dari HP saya menandakan ada sms masuk. Kulihat, ada 1 pesan dari Fachri. Tanpa ada firasat apa-apa, saya buka sms itu. "HARIO CALON UTAMA PASKIB NASIONAL" yak benar sekali, capslock semua sodara-sodara. Ngomong-ngomong, detik itu juga saya selesai mencerna arti sms-nya, saya otomatis berteriak lho. Gotrek yang sedang duduk di sebelah serius
mengerjakan menyalin jawaban sampai bengong melihat saya nangis campur ketawa.
Ketika teman-teman sekelas tahu alasan kenapa saya nangis, mereka langsung mengucapkan selamat pada saya. Rasanya saat itu semua beban di pundak hilang. Tapi cuma sms aja belum cukup, siapa tahu Fachri salah liat tanggalan dan mengira ini April Mop kan?
Entah dapat wangsit dari mana, feeling saya mengatakan harus ke lapbas. Padahal saat itu saya gatau ke-5 teman saya yang lain dan adik-adik itu termasuk dek hario ada di mana.
Welahdalah ncen nek jodho ki mesti ngko ketemu. Ternyata semuanya sudah berkumpul di sana, bahkan sudah ada dek Dafi juga.
Waktu saya disodorkan Surat Keputusannya, bukti sah dan nyata itu memang tertulis Hario sebagai calon utama yang akan diberangkatkan ke Istana Merdeka. Nggak kerasa saya mbrambangi, dalam hati rasanya lega sekali. Sampai Yazil heran,
"Mbak Layung kok nangis e?" Ah dek, kamu nggak tau berapa usaha kami hingga bisa sampai mengantar kalian ke hasil ini. Surat ini seolah kayak kas bon bertuliskan 'LUNAS', akhirnya pengorbanan kami terbayar semua.
Namanya juga cewek yang gampang tersentuh, saya tetap nggak berhenti sesenggukkan waktu saya menyodorkan kembali surat teramplop itu pada Hario. Spontan, saya bilang
"Terima kasih ya dek" dengan suara bergetar. Maksudnya, terima kasih sudah berhasil membawa impian kami yang dulu tidak bisa kami wujudkan itu.
Skip, skip, akhirnya tiba juga saat yang ditunggu-tunggu. HUT RI ke-66. Ngomong-ngomong, seorang paskibraka itu tidak tahu kapan dan apa posisi yang akan mereka tempati sampai Surat Keputusan dibacakan beberapa jam sebelum tugas. Lah kita yang ditinggal mereka pergi asrama juga ketar-ketir penasaran mereka akan jadi apa. 3 adik saya yang di Kota sih, masih bisa kami pantau. Lha Hario? Kontak kami sama sekali terputus.
Yazil, Ovi, Ical ft. Paskibraka Teladan
ki-ka: Yudhis, Fachri, Yazil, Ovi, Ical, Anin, Azhar (minus saya dan Abi)
Pada tanggal 17 Agustus 2011, kami ber-6 terpisah-pisah. Aku dan Abi bertugas menemani adik kelas kami jadi peserta upacara di Gedung Agung. Sementara Fachri, Azhar, Anin, dan Yudhis standby di Balai Kota. Untuk yang di Kota, kami langsung mendapat kabar posisi mereka ber-3 yang sudah pasti. Sementara untuk Hario, kami
clueless.
Sudah jam 10 lewat, aku dan Abi masih sibuk dengan yang di Gedung Agung. Mengikuti upacara dengan khidmat. Di saat yang hampir bersamaan, HP kami sama-sama berbunyi. Sedetik itu juga, kami tahu, ini pasti kabar tentang Hario. Sms yang pertama saya baca datang dari Ibu saya sendiri, "Pengerek Bendera: Hario Wibowo dari Provinsi DIY". Surprise. Abi juga dapat sms yang isinya hampir sama dari Pak Singgih. Aku mbrambangi. Abi katanya merinding.
Nggak lama setelah itu, HP saya diberondong dengan ucapan selamat dari banyak kenalan saya. Saya sendiri? Rasanya masih nggak percaya aja gitu. Adik kami, berhasil jadi pengibar bendera di Istana Merdeka. Disaksikan berjuta pasang mata, termasuk Pak Presiden sendiri. Seandainya saya lagi nggak upacara di Gedung Agung, mungkin saya sudah teriak-teriak keliling lapangan, mungkin juga sambil salto #eh.
Setelah saya balik ke sekolah dan ketemu temen-temen angkatan 2013 adik kelas saya, saya baru tau kalo posisi Hario yang sebenarnya adalah perentang bendera. Jadi, sodara-sodara, terjadi miskonsepsi besar berskala nasional dengan wajah Hario yang sebenarnya. Sepertinya media mendapat informasi yang salah. Seharusnya Hario Wibowo sebagai perentang bendera. Em... ya walaupun nanti endingnya sama-sama mengerek juga sih -_- Intinya, Hario bertugas sebagai pasukan 8 pagi, trio pengibar, perentang bendera.
Dan seperti itulah, kemudian terjadi euforia besar-besaran. Saya bisa merasakan ada banyak orang bangga dengan adik kami itu. Seorang putra Jogja berhasil membentangkan Bendera Pusaka dengan gagahnya. Saya bohong kalo bilang saya nggak merasa bangga.
Sorenya, saya bertemu dengan Ovi, Yazil, dan Ical. Melihat mereka selesai bertugas membuat saya kembali ke mode ibu-ibu labil. Mewek lagi. Saya peluk erat si Ovi. Saya nangis. Dia juga nangis. Saya ucapkan selamat untuk gadis berjilbab ini. Perasaan senang yang membuncah membuat saya berbisik di telinganya,
"Kami bangga punya kalian dek". Lega, saya sudah ingin katakan itu dari dulu pada mereka.
Melirik perjuangan mereka berempat, sama beratnya dengan yang pernah kami alami dulu. Dan mereka telah berjuang dan berhasil dengan cara mereka masing-masing.
Faishal atau
Ical, berhasil menjadi Komandan Kelompok saat pagi dan Komandan Pasukan 8 sore, menjadi pengibar tengah. Padahal dulu tinggi Ical terbilang kalah dibandingkan dua teman putranya yang jangkung-jangkung.
Lain lagi
Yazil yang sukses jadi paskibraka Kota Putra yang paling 'bersinar' alias paling putih kulitnya huahaha. Anggota trio ketiga pasukan 17 ini dari dulu memang selallu kekurangan pigmen. Meskipun dulu dia yang paling ngeyel dan nyenthe (:p) tapi dia memberikan warna tersendiri. Nggak ada Yazil nggak rame. Ada Yazil, malah keramean.
Dan dulu,
Ovi sempat mati-matian berlatih padahal kakinya sedang sakit. Toh Ovi nggak gampang menyerah. Ambisi yang besar berhasil membawa Ovi menjadi pendamping pengibar atau 'serpihan' di Pasukan 8 Pagi. Ditambah tanggung jawabnya sebagai Bu Lurah (atau koordinator) bagi temen-temennya di Kota menandakan dia memang patut dipercaya.
Terakhir ada
Hario, si perentang bendera di Istana Merdeka. Padahal dulu di buku komunikasinya Hario pernah menulis dia cuma ingin sampai jadi Paskibraka Kota. Dia nggak ingin bermimpi yang muluk-muluk. Apalagi saat ini dia hanya tinggal berdua dengan kakaknya. Orangtuanya tinggal dan bekerja di Samarinda (um... kalo gak salah). Siapa yang menyangka dialah yang berhasil membawa harapan temen-temennya itu.
Saya tidak punya alasan untuk mengatakan saya tidak bangga pada mereka.
Selamat, kalian telah menjadi seorang Paskibraka Teladan.
Sebagai orang yang dikenal suka mengingat hal-hal yang terkesan remeh, saya teringat saat di pelatihan calon paskibraka di sekolah, ketika kami sedang mengobrol santai Hario pernah bilang
"Wah yo paling penak ki nek Nasional yo. Opo meneh dadi pengibar. Udah namanya disebut, orangtuanya disebut, sekolahnya disebut lagi."
Well, dreams do come true, people :)
Bahkan setelah 2 tahun sejak saat saya memutuskan ingin jadi paskibraka, saya yakin, saya tidak pernah menyesal mengambil keputusan itu. Saya tidak pernah menyesal bertemu 5 orang teman seperjuangan saya, dilatih oleh 5 kakak, dan melatih adik-adik yang tadi saya sebutkan. Karena sampai saat ini, menjadi paskibraka mungkin adalah salah satu hal terbaik yang pernah saya alami.
Dirgahayu ke-66 negriku, Indonesia Raya
Tatya Layung Nareswari
Label: curcol, events, feelings, Indonesia, inspiring